Tuesday, 24 February 2015

Nicholas Lazarevitch

Lahir 17 Agustus 1875, di Belgia dekat daerah Liege, anak dari pasangan pengungsi revolusioner dari Rusia. Nicholas Lazarevitch aktif dalam gerakan anarko-sindikalis sebelum pecahnya Perang Dunia II setelah bekerja di sejumlah pabrik dan tambang di daerah Belgia berbahasa Prancis.
Dia bekerja di pertambangan di daerah Ruhr, Jerman tahun 1916, tetapi pada 1917 melarikan diri ke Belanda. Di sana dia bergabung dengan para tahanan perang dari Rusia yang juga melarikan diri dari Jerman dan membantu mendirikan sebuah soviet untuk mendorong pengembalian mereka ke Rusia.
Pada bulan February 1919, dia kembali ke Rusia dengan para tahanan perang dan bergabung dengan Tentara Merah. Dia kemudian dikirim ke Rusia selatan untuk menjalankan kerja propaganda di kalangan tentara Prancis. Dia kemudian ditahan dan diselamatkan dari eksekusi hanya saat Tentara Merah mengambilalih Odessa.
Pada titik ini Lazarevitch merasa sangat dekat dengan kaum Bolsheviks “yang saat itu dipercaya olehnya menjadi satu-satunya tendensi politik yang dekat dengan arus pemikiran anarkis namun terorganisir dengan baik”. Dia kemudian melarikan diri dari pergerakan pasukan Denikin yang mengambilalih Odessa. Dia kemudian memasuki Rumania dimana kemudian dia ditangkap kembali. Dia kemudian berhasil melarikan diri secara sembunyi-sembunyi dan memasuki Yugoslavia, lalu Italia. Di sana, dia menciptakan kontak dengan kaum anarkis Italia dan terjun bertempur di jalanan melawan kaum fasis Itali.
Dia kembali ke Rusia bulan Maret 1921, dan bekerja paruh-waktu sebagai penerjemah bagi Comintern, namun menolak menjadi jabatan resmi. Dia lebih meminta kerja di pabrik dan bekerja serta menghabiskan masa 1921-24 di berbagai pekerjaan di sejumlah pabrik Rusia. Kemudian dia menjalin kontak dengan Boris Souvarine dan Pierre Pascal.
“Dalam pandangannya solusi atas konflik dengan Partai Komunis dan serikat buruh yang dijinakkan sepenuhnya terletak pada pembentukan kelompok-kelompok buruh, benih masa depan dari organisasi-organisasi serikat buruhindependen yang mampu berhadapan dengan Partai dan upaya pengembalian kapitalisme”.
Dipaksa bergerak di bawah tanah karena aktivitas-aktivitas tersebut, Lazarevitch ditangkap polisi rahasia GPU (cikal bakal KGB — penerj) di 1924. Dia menolak mengakui badan pengadilan dan ditahan tanpa pernah diadili hingga 1926. Dia dibebaskan setelah sebuah kampanye gerakan anarko-sindikalis dan kelompok La Revolution Proletarienne. Dia diusir dari Uni Soviet tahun 1926. Setelah itu, dia menetap di Paris dan membantu menulis “Platform” bersama Makno, Ida Mett dan kawan-kawan lain.
Di tahun 1926, dia memulai kampanye penyebarluasan realitas sebenarnya kelas pekerja di Uni Soviet kepada kaum pekerja Prancis. Dia mengorganisir 50 pertemuan di Prancis, Belgia, Swiss, dan Jerman, seringkali di dalam pertemuan-pertemuan ini mereka mesti bertikai dengan kaum komunis lokal. Otoritas Prancis mengusirnya tahun 1928, setelah itu dia bekerja sebagai buruh tambang di Belgia, sebelum akhirnya memasuki Prancis secara ilegal untuk bekerja di sektor konstruksi.
Tahun 1931 Lazarevitch, Ida Mett dan istrinya, melakukan perjalanan ke Spanyol. Dia sejak lama telah berkawan dengan Francisco Ascaso & Buenaventura Durruti yang dikenalnya saat hidup sebagai pengungsi di Belgia. Dia kembali ke Paris, dan kemudian Belgia tahun 1932, tetapi tetap memperhatikan dengan seksama kejadian-kejadian di Spanyol untuk La Revolution Proletarienne.
Kembali ke Belgia, dia aktif dalam pemogokan yang diselengarakan kaum anarko-sindikalis, juga aktif sebagai pendukung gerakan anti-militer. Dia melakukan kampanye atas nama Victor Serge dan Francesco Ghezzi yang masih berada di Uni Soviet dan atas nama kaum anarkis non-Belgia yang diusir dari Belgia. Dia dijebloskan ke penjara selama setahun di 1935 karena aktivitas anti-militer dan serikat buruh.
Dia masuk kembali ke Prancis secara ilegal untuk mencari kerja secara ilegal dengan bantuan serikat ahli penyunting (proof-readers — penj). Lazarevitch secara aktif mengumpulkan dokumentasi dan material yang menjadi bahan pokok tulisan Ida Mett berjudul The Kronstadt Commune, yang terbit pada tahun 1938.
Dia ditangkap kembali tahun 1940 sebagai pendatang haram di kamp Vernet. Dia berhasil menyakinkan aparat Prancis akan sepenuhnya menuruti upaya pengusirannya ke Belgia namun berhasil meloloskan diri di dalam perjalanan. Untuk waktu singkat dia kembali menjadi buruh dan bekerja di daerah Les Landes, sebelum bergabung kembali dengan istri dan anaknya di Var tahun 1942. Dia kembali ke kota Paris tahun 1946 dan bekerja sebagai penyunting.
Di tahun 1950an, Lazarevich menerbitkan sejumlah tulisan tinjauan berdasarkan sejumlah cuplikan dokumen dari publikasi aparatus Soviet Rusia. Dia kemudian mengajar bahasa Rusia dan berusaha memakai kontak-kontak mahasiswanya untuk mencari dan mengumpulkan informasi mengenai situasi di Rusia.
Dalam Pemberontakan Mei 1968 di Pracis, kembali Lazarevich mengambil bagian dan sempat berbicara di rapat umur raksasa di Universitas Sorbonne. Dia mengembuskan nafas pada 24 Desember 1975.
***
terjemah oleh:
yerry niko (1 Sept 2009)
Artikel ini, “Unknown Anarchists: Nicholas Lazarevitch”, dengan tambahan sedikit keterangan disarikan dari Kate Sharpley Library Bulletin No. 11, 1997, anti-CopyRite 1997-3000, more or less (recall@recollectionbooks.com)
Dapat diperiksa kembali di http://flag.blackened.net/ksl/bullet11.htm#Lazarevitch

Sunday, 22 February 2015

Nestor Makhno

Nestor Ivanovich Makno lahir pada 27 Oktober 1889 di Gulyai-Polye, selatan Ukraina. Ia anak kelima dari keluarga petani miskin. Saat masih sangat muda, ayahnya meninggal. Demi membantu ibu dan keluarganya, Makhno yang masih berusia 7 tahun, bekerja pada seorang tuan tanah kaya.
Ketika berusia 16 tahun, Makhno bekerja di pengecoran logam. Sejak saat itu, semangat pemberontakkannya timbul terlebih setelah revolusi 1905 gagal. Ia mulai gencar berhubungan dengan berbagai organisasi politik. Kemudian, Makhno bergabung dalam kelompok anarcho-komunis Gulyai-Polye dan menjadi aktivis yang militan.
Bersama kelompoknya, Makhno menyerang kantor polisi. Ia ditangkap dan dipenjara. Selama itu pula ia disiksa bahkan dijatuhi hukuman mati. Namun, hukumannya ditangguhkan. Sebagai gantinya, ia dihukum kerja paksa seumur hidup.
Ia dipenjara di sel tersendiri. Selama masa hukuman di Moscow, Makhno mempelajari banyak hal dari Peter Arshinov (1887-1936), tokoh anarkis terkenal di Moskow.
Makhno akhirnya bebas pada 1 Maret 1917 ketika revolusi pecah. Ia kembali ke Gulyai-Polye. Di sana ia disambut hangat oleh kelompok anarkisnya. Makhno dan kameradnya mulai fokus pada pembangunan Soviet (dewan komunitas).  Akhir Agustus 1917, mereka mengumumkan “pelucutan senjata semua kaum borjuis dan penghapusan hak mereka terhadap kesejahteraan masyarakat
Lahan dan peternakan diambil alih dari para kulak kaya dan didistribusikan pada petani-petani miskin. Komune yang beranggotakan 100-300 orang dibentuk berdasar partisipasi sukarela.  Beberapa bengkel kerja dikuasai kaum pekerja.  Komite swadaya mereka bertugas mengorganisir angkatan kerja dan mengatur pendistribusian hasil produksi.
Khawatir kekuatan mereka menguasai Rusia, Lenin dan Trotsky mengadakan kesepakatan damai terpisah (perjanjian Brest-Litovsk) dengan pemerintah kerajaan Jerman pada 3 Maret 1918. Imbasnya, gerbang menuju Ukraina terbuka lebar bagi pasukan Austro-Jerman. Pemerintahan otokrasi Hetman Skoropadsky disusupi penjajah.
Kontra-Revolusi ini melenyapkan organ-organ revolusi otonomis petani dan pekerja. Para partisan merancang revolusi secara diam-diam karena sadar tidak ada harapan lagi dalam perang terbuka. Mereka mempersiapkan rencana pemberontakan petani setelah masa panen. Meski demikian, Makhno harus menyingkir karena ia terancam dibunuh bahkan sudah ada “harga untuk kepalanya”.
“ Juni, 1918, aku bertemu Lenin di Kremlin […]. Orang akan kesulitan menemukan kombinasi penipu dan hipokrit pada diri seorang master politik seperti yang kulihat dari Lenin kala itu. Pada saat itu, pemerintahan Bolshevik telah berencana menekan anarkisme dengan cara mendiskreditkannya.  Bolshevisme Lenin harus melenyapkan semua gerakan pembebasan revolusioner [..].” – The Struggle against the State (dan tulisan-tulisan lain), karya Makhno (1925-1932), diterjemahkan oleh Alexandre Skirda.
Awal Juli 1918, Makhno kembali ke Ukraina dan mengorganisir pemberontakkan dibawah bendera hitam. Para partisan memberikan pukulan besar bagi  pimpinan Austro –Jerman dan asosiasinya, The Ukrainian Central Rada. Mereka menyerang tiba-tiba, lalu lenyap dengan bantuan para petani yang menyembunyikan kuda-kuda mereka.
Reputasi Makhno meningkat. Berbagai kelompok ikut bergabung. Makhno dan anggota Makhnovshchina dipilih dan diingat pasukannya. Semangat kebebasan semakin besar.
November 1918, Austro-Jerman mengevakuasi Ukraina. Makhno menangkis tentara putih Tsar.
Kongres regional kaum petani dan pemberontak mengkoordinasikan aktivitas ekonomi. Pasukan dibawah kendali populasi. Kaum petani punya hak untuk mengkritik bahkan ke Makhno sendiri. Aksi itu lebih pada dukungan terhadap aspirasi kaum petani daripada mengindoktrinasi mereka.
Sejak itu, Makhno menjadi tokoh penting di Ukraina. Rezim Bolshevik memutuskan menyerang gerakan Makhnovshchina.
Kami yakin di masa mendatang, seluruh kelas pekerja akan berada pada posisi yang sama, dan bahwa mereka akan mengorganisir kehidupan profesional,ekonomi, sosial, dan budaya mereka sendiri sesuai asas kebebasan, tanpa menjadi subjek bagi wakil,  tekanan, dan kediktatoran setiap personal, partai, atau pemerintahan apapun”.
Trotsky menyatakan, “akan lebih baik bila Deniken (Jendral Tsar) menguasai Ukraina daripada membiarkan Makhnovshchina  semakin besar!”
Kepala Makhno kembali dihargai. Tentara merah dan partisan Makhnovist saling menyerang.
Trotsky lebih memilih kekuatan reaksioner daripada Makhno. Jendral Tsar Wrangel, mengorganisir kembali Tentara Putih, menyerbu Ukraina, dan mengalahkan Bolshevik.
Di Moskow, Lenin bersiap mengungsi. Saat itu, Bolsheviks menawarkan kerjasama dengan Makhno. Kaum Makhnovist menang melawan Wrangel  yang kemudian mengirim Tentara Merah.
Segera setelah itu, Trotsky melakukan serangan terhadap Makhno. Merasa dikhianati, pimpinan komandan ditembak. Masyarakat terteror.
Makhno bertahan hingga 1921. Makhno yang terluka dievakuasi dan diusung oleh pasukan terakhirnya. Akhirnya, Ia mencari perlindungan di Paris.
Di Renault, Makhno kembali hidup sebagai buruh. Sejak itu, Ia digerogoti penyakit dan kesedihan. Polisi rahasia Soviet menuduh Makhno terlibat dalam aksi antisemit dan pogrom ((Aksi penganiayaan terhadap kelompok etnis tertentu, dalam hal ini kaum Yahudi.)).
Respons Makhno terhadap tuduhan itu:
“ Apakah realitas berpihak pada kebohongan ini? Semua buruh Yahudi asal Ukraina, seperti halnya semua buruh Ukraina lain, tahu betul gerakan yang kupimpin selama beberapa tahun ini adalah gerakan revolusi buruh yang otentik. Gerakan ini tidak pernah sekalipun memisahkan organisasi praktis dari para buruh yang dikhianati, dieksploitasi, dan ditindas sesuai ras mereka. Sebaliknya, gerakan kami berusaha menyatukan mereka dalam satu kekuatan revolusi, yang mampu bertindak melawan penindas mereka, terutama melawan Denikenist yang dipenuhi antisemitisme. Gerakan kami tidak pernah melakukan pogrom dan tidak pernah menganjurkannya.Lebih jauh lagi, banyak buruh Yahudi yang ditempatkan di garis depan gerakan revolusi Ukraina (Makhnovist).Contohnya, salah satu kompi dalam rezim infanteri Gulyay-Polye terdiri dari 200 buruh Yahudi.  Selain itu, juga ada 4 pasukan artileri yang bagian senjata, unit pertahanan, dan komandan semuanya orang Yahudi.Sejumlah besar buruh Yahudi dalam gerakan Makhnovist, untuk alasan personal, memilih bergabung dalam unit penyerangan. Mereka semua pejuang kebebasan yang secara sukarela bergabung dalam perjuangan terhormat kami demi kepentingan bersama kaum buruh. Pejuang anonim ini memiliki perwakilan sendiri dalam organ ekonomi untuk perbekalan perang. Semua ini boleh diperiksa diantara koloni dan desa Yahudi di bagian Gulyay-Polye.Semua buruh Yahudi yang memberontak bekerja di bawah komandoku selama ini, bukan hanya beberapa hari atau bulan saja, tapi sepanjang tahun. Mereka semua saksi mata bagaimana aku,  staff prajurit,dan pasukan sebagai satu kesatuan bersikap terhadap antisimitisme dan pogrom yang semakin berkembang.Tindakan pogrom maupun penjarahan telah dihancurkan dari pucuknya.  Siapapun yang terbukti bersalah selalu ditembak di tempat. “
Makhno meninggal pada 1934. Lima ratus orang hadir dalam pemakamannya pada 28 Juni di Pere-Lachaise—tempat jasadnya bersemayam dengan rekan-rekan seperjuangannya.
Sumber tulisan : thedancingfaun